HARLAH Ke-14 PONDOK PESANTREN NURUL HUDA : Aktualisasi Peran Pondok Pesantren untuk Bangsa dan Agama

Hari ini, Ahad, 28 Februari 2021 sedang berlangsung Khotmilquran dalam rangka tasyakuran Harlah Pondok Pesantren Nurul Huda Setu, Bekasi ke-14, sekaligus memperingati Harlah NU ke-98. Dalam kegiatan yang dihadiri oleh para tokoh mulai dari perwakilan PBNU, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat sekitar ini dilakukan juga peletakan batu pertama gedung asrama putra.

Nurul Huda Bekasi: Cahaya Petunjuk untuk Bangsa
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Ia lahir secara genuin dari rahim budaya masyarakat nusantara. Sebagai lembaga pendidikan tertua, pesantren telah tumbuh berkembang sebagai mercusuar yang membawa cahaya petunjuk bagi masyarakat.
Bekasi adalah daerah strategis yang sangat dekat dengan ibu kota Indonesia, dan jalur tempuh berbagai daerah menuju Jakarta. Sebagai “pintu” ibu kota, Bekasi memiliki tantangan yang luarbiasa, mulai pergaulan bebas, dampak negatif budaya metropolitan, persaingan industri, sampai dengan corak Islam perkotaan yang jauh dari akar budaya nusantara.
Pondok Pesantren Nurul Huda sudah berusia 14 tahun di 2021 ini. Eksistensinya telah diakui dan keberkahannya dirasakan oleh masyarakat luas. Ia bagaikan sumber mata air bagi orang-orang yang kehausan ilmu agama. Nurul Huda seperti cahaya penerang bagi hati yang redup. Lantunan Alquran, shalawat, zikir, dan doa yang setiap hari dikumandangkan para santri menjadikan Nurul Huda sebagai washilah turunnya keberkahan dan cahaya hidayah.

Aktualisasi Peran Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan, Agama, dan Sosial
Peran pesantren setidaknya ada tiga sesuai yang disampaikan wakil ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMINU) KH. Khoirul Huda Basyir saat sambutannya, yakni: Pertama, sebagai lembaga pendidikan pesantren harus menyebarkan ilmu pengetahuan dalam proses pembelajarannya. Kedua, sebagai lembaga keagamaan, pesantren harus mampu mencetak para dai-daiah yang menyebarkan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin. Ketiga, sebagai lembaga sosial pesantren juga berfungsi untuk mengontrol sosial bahkan perekayasa sosial (social engineering), sehingga tercipta suasana yang kondusif dan masyarakat yang beradab. Oleh karenanya, di usia yang ke-14 ini, tuntutan masyarakat terhadap eksistensi Nurul Huda semakin tinggi.
Sudah saatnya Nurul Huda tidak hanya membangun dari dalam baik fasilitas, metode, dan para tenaga pendidiknya, tetapi juga perlu menggandeng seluruh kalangan termasuk masyarakat sekitar untuk memperluas dakwah dan peran pesantren itu sendiri. Pesantren sebagai lembaga asli (indigenous) yang lahir dan berkembang dari kristalisasi sosial nusantara, maka sudah semestinya melanjutkan estafet peran pesantren sebelumnya.
Sebagai kekuatan civil society, pesantren akan semakin kuat mengakar dan berkembang meninggi jika pesantren mampu menangkap nilai-nilai keagamaan dalam teks-teks kitab kuning, kebutuhan dan adaptasi dengan masyarakat sekitar, serta mengamalkannya dalam kiprahnya di masyarakat.
Akhirnya, selamat Harlah Pondok Pesantren Nurul Huda ke-14, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan untuk kita semua, segala cita-cita para pendiri dan harapan diijabah. Amin.

Pondok Pesantren Nurul Huda Setu, Bekasi
28 Februari 2021

HARLAH Ke-14 PONDOK PESANTREN NURUL HUDA
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *